
Saya lahir dari keluarga sederhana dan tumbuh di daerah pinggiran Balikpapan.. Sejak kecil saya terbiasa hidup dalam keterbatasan. Untuk mengikuti kegiatan, berorganisasi, bahkan sekadar menghadiri acara, saya sering harus berjuang dengan keadaan. Dari situ, saya belajar bahwa kondisi hidup tidak boleh menentukan masa depan seseorang.
Saya mulai aktif di berbagai organisasi, seperti PII, Pramuka, komunitas relawan, dan kegiatan sosial kepemudaan. Perjalanannya tidak mudah. Saya pernah merasa minder, diremehkan, kelelahan membagi waktu, hingga harus tetap kuat di tengah masalah ekonomi dan tekanan hidup. Namun, setiap proses tersebut justru membentuk mental saya untuk terus bertahan dan berkembang.
Di tengah keterbatasan, saya dipercaya menjadi Ketua OSIS saat sekolah, kemudian menjadi Presiden BEM di kampus. Dari pengalaman itu, saya belajar tentang kepemimpinan, komunikasi, serta cara menyuarakan aspirasi anak muda. Awalnya, saya bukan siapa-siapa, hanya seorang anak muda dari pinggiran kota dengan semangat besar untuk terus bergerak.
Saya mulai menyadari bahwa kontribusi tidak cukup hanya berhenti pada ruang organisasi, tetapi perlu dihadirkan dalam bentuk gerakan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Dari kesadaran itu, muncul inisiatif dalam diri saya untuk membangun sebuah ruang yang dapat mewadahi kegelisahan sekaligus harapan anak muda. Berangkat dari inisiatif tersebut, saya kemudian mendirikan “Muda Menginspirasi” sebagai langkah nyata untuk menghadirkan ruang bertumbuh, berbagi, dan saling menguatkan bagi generasi muda.
“Muda Menginspirasi” lahir bukan sekadar dari sebuah ide, melainkan dari kegelisahan yang saya rasakan terhadap kondisi generasi muda saat ini. Saya melihat banyak anak muda memiliki potensi besar, tetapi kehilangan arah, ruang untuk berkembang, bahkan kepercayaan pada diri sendiri. Tidak sedikit yang akhirnya terjebak dalam pergaulan bebas, kriminalitas, lingkungan yang tidak sehat, dan merasa hidupnya tanpa tujuan. Sebagai seseorang yang juga tumbuh dalam keterbatasan, saya memahami bagaimana rasanya berada di titik lelah, bingung, dan merasa sendirian. Dari situ, saya menyadari bahwa ketika anak muda tidak memiliki ruang untuk didengar, dibimbing, dan dikuatkan, mereka akan mencari tempat lain yang belum tentu membawa kebaikan.
Karena itu, “Muda Menginspirasi” hadir, bukan hanya sebagai komunitas, tetapi sebagai ruang bertumbuh bagi anak muda untuk saling menguatkan, belajar, dan percaya bahwa mereka memiliki masa depan yang layak diperjuangkan. Saya ingin gerakan ini menjadi rumah bagi mereka yang pernah diremehkan, kehilangan kepercayaan diri, atau merasa tidak memiliki kesempatan.
Nilai utama yang kami tanamkan sederhana, tetapi penting
bahwa hidup terbaik adalah hidup yang memberi manfaat bagi orang lain.
Kami berpegang pada prinsip, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.” Melalui itu, kami ingin melahirkan generasi muda yang tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, empati, dan keberanian untuk membawa dampak positif di sekitarnya. Bagi saya, perubahan besar selalu dimulai dari anak muda yang berani bergerak, meskipun dari langkah kecil dan dalam keterbatasan.
Tantangan terberat dalam proses bertumbuh adalah tetap kuat di tengah keterbatasan hidup. Saya sering merasa tertinggal dibandingkan dengan mereka yang memiliki lebih banyak fasilitas dan kesempatan. Ada masa ketika saya harus membagi tenaga antara kuliah, organisasi, kegiatan relawan, dan kondisi keluarga, hingga mengalami kelelahan mental dan kehilangan kepercayaan diri. Ditambah lagi, pandangan orang-orang yang meremehkan mimpi anak muda dari latar belakang sederhana. Namun, dari proses tersebut saya belajar bahwa
keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, melainkan alasan untuk berjuang lebih keras.
Saya menghadapinya dengan tetap berada di lingkungan yang positif, memperkuat doa, dan mengingat tujuan awal, yaitu menjadi pribadi yang bermanfaat bagi banyak orang. Saya percaya, orang hebat bukanlah mereka yang hidupnya paling mudah, melainkan mereka yang mampu bangkit meskipun sering jatuh. Dalam setiap proses dan perjalanan yang saya jalani, ada satu prinsip hidup yang selalu saya pegang, yaitu sabda Nabi Muhammad SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Prinsip ini mengingatkan saya bahwa hidup bukan sekadar mengejar pencapaian atau pengakuan, melainkan tentang seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan, sekecil apa pun itu.
Saya percaya, setiap anak muda memiliki luka, kegagalan, dan perjuangannya masing-masing. Namun, jangan biarkan hal tersebut membuat kita berhenti atau kehilangan arah. Justru dari rasa sakit, keterbatasan, dan jatuh bangun itulah mental kita ditempa menjadi lebih kuat dan bermakna.
Jangan takut memulai dari hal kecil, jangan minder karena berasal dari keluarga sederhana, dan jangan menyerah hanya karena diremehkan orang lain. Pada akhirnya, orang yang paling berdampak adalah mereka yang pernah merasakan sulitnya kehidupan, lalu memilih bangkit dan membantu orang lain untuk bangkit. Sebab, hidup yang paling indah bukan ketika kita dikenal banyak orang, melainkan ketika kehadiran kita mampu membuat orang lain kembali percaya bahwa harapan itu masih ada.


Komentar0